banner 728x250

Arsitektur UII Gelar SAKAPARI 12, Membedah Perbaikan Bumi

  • Share
Contoh ruang pertemuan yang sehat dan ramah lingkungan. Image of Bedawang Nala, Jimbaran Hijau, Bali Indonesia. Foto : Istimewa.
banner 468x60

JOGJA – Jurusan Arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta kembali mengadakan Seminar Karya dan Pameran Arsitektur Indonesia (SAKAPARI), Kamis (31/8/2023). Kegiatan ini terselenggara berkolaborasi dengan Laboratorium Teknologi dan Kinerja Bangunan (LTKB).

SAKAPARI kali ini mendiskusikan dengan tema “Sustainiblity and Resilience in The Future of Urban and Rural Living” melalui forum webinar. Bertindak sebagai keynote speaker pada sesi panel disampaikan oleh Ir. Irwan Prijanto, M.M., GP. (Chairperson GBC Indonesia). Seminar ini turut mengundang narasumber yang merupakan akademisi dan peneliti dari LTKB yaitu Assoc. Lecturer Etik Mufida dan Assoc. Lecturer Dyah Hendrawati, S.T., M.Sc. yang dibersamai oleh Assoc. Lecturer Johanita Anggia Rini, S.T., M.T., Ph.D. sebagai moderator.

banner 336x280

Ketua Jurusan Arsitektur FTSP UII Prof. Noor Cholis Idham dalam sambutannya mengatakan forum SAKAPARI tahun ini sudah menginjak ke 12 kali. Karena ada program internasional, maka forum ini ada sesi pararel yang bisa diikuti mahasiswa di luar negeri.

“Untuk SAKAPARI kali ini memiliki 99 papers dan presenter dari 121 proposal yang masuk,” terangnya.

Noor Cholis mengatakan SAKAPAR merupakan forum semesteran yang menggambarkan hasil kinerja produk dari mahasiswa dan dosen. Sebab, setiap akhir semester mereka dituntut untuk menunjukan seberapa jauh sudah bekerja.

“Nah, pemilihan tema sesuai perintah dalam salah satu ayat di surat Al-Qosos, agar kita menjaga keseimbangan dunia dan akhirat dan tidak merusak bumi. Tema kita sangat terkait itu. Terkait isu isu lingkungan dan berkelanjutan di wilayah kota ataupun desa,” ucapnya.

Sementara itu Rektor UII Prof. Fathul Wahid dalam pembukaannya mengucapkan selamat atas terselenggaranya SAKAPARi ke 12. Kegiatan tersebut tentunya sebagai indikasi dari dedikasi yang terawat.

Terkait tema diskusi, Fathul memberikan pandangan bahwa rural di pedesaan dan kota paling tidak ada dua hal yang selama ini dijadikan dasar yaitu lokasi geografi dan populasi. Jadi, jumlah dan kepadatan.

“Nah, ada yang berbeda bagaimana memandang hubungan kota dengan desa. Dulunya dipandang sebagai sesuatu yang terpisah. Perbedaan lainnya adalah disparitas dalam berbagai mulai akses hingga kapasitas finansial,” ucapnya.

Selain itu Fathul memantik pertanyaan apakah perbedaan desa dengan kota bisa diintegrasikan. Kemudian apakah ini bisa terimplementasi dalam desain ataupun perencanaan.

BACA JUGA : 

Usung Tajuk Catur Wasita, IAI DIY Peringati HUT Ke 47 Tahun

Masih Muda, Baritoadi Pimpin IAI DIY

RESTORASI BUMI

Pembicara utama Ir. Irwan Prijanto, M.M., GP memaparkan tantangan di masa lalu, masa sekarang dan masa depan jelas berbeda. Sehingga harus dipersiapkan solusi masalah bukan untuk yang saat ini tapi yang akan datang di masa depan.

Menurutnya, keberlangsungan globalisasi sempat menjadi deglobalisasi karena pandemi. Skema kehidupan umat manusia didongkrak adanya globalisasi. Dengan globalisasi bumi yang besar ini menjadi kecil, karena semua bisa dijangkau.

“Nah, fenomena Covid-19 terjadi deglobalisasi,” ucapnya.

Selama pandemi sempat mengalami penurunan emisi gas CO². Juga terjadi penurunan urbanisasi. Hanya saja, setelah pandemi berkahir justru kembali ke pola lama bahkan lebih buruk dari yang sebelumnya.

Padahal kalau menyadari ternyata koneksi itu lebih penting daripada lokasi atau dari pada stasiun. “Sehingga kita bisa mengurangi pemusatan yang selama selalu muncul di kota. Yang harusnya itu bisa tersebar lebih merata, polycentric. Bahkan lokal ekomoni bisa ditumbuhkan di pedesaan,” terangnya.

Menurutnya, perlunya merestorasi bumi Indonesia menjadi kenyataan. Jika ingin memperbaiki kondisi bumi secara keseluruhan maka harus kembali ke prinsip -prinsip keberlanjutan lingkungan. Nabi Muhammad sendiri tidak mengglorifikasi pembangunan yang berlebihan atau penggunaan sumber yang berlebihan.

Irwan sendiri mengakhiri pemaparannya dengan memberikan contoh inspiratif terkait perencanaan sustainable tropical building. “Dan saya harus mengatakan bahwa kita ini hidup di bumi. Kita harus membangun a Sustainable Tropical Building yang bisa menciptakan ruang yang sehat,” terangnya.

Sebagai informasi jalannya diskusi secara lengkap bisa diikuti melalui chanel Youtube Departmen of Architecture, Unversitas Islam Indonesia. Mengambil judul SAKAPARI 12 – 2023. (Ana/Ara)

banner 336x280
banner 120x600
  • Share